nanangrusmana.com

Kolom Sharing tentang Interior Design,Seni ,Sastra, Sketsa & Kehidupan

Cermin saya memantulkan sang diri…

Sering ketika saya mengendarai motor dari rumah ke kantor, atau ketika mengendarai mobil bersama anak istri dan keluarga menuju luar kota, jalanan adalah inspirasi saya yang bisa tiba tiba saja datang. Jika yang lain berkendara selalu konsentrasi ke jalanan, saya malah lebih banyak mendapatkan ide ide baik berupa narasi ataupun syair puisi yang lahir di jalanan. Jadi jangan heran jika ikut dalam kendaraan yang saya kendarai, maka saya akan lebih banyak diam, sebab saya lebih banyak bicara dan dialog dengan diri saya sendiri……:) .

Kadang, saya merasakan sebuahkekuatan yang luarbiasa ketika kemarahan memuncak pada ketidak adilan, pada penguasa yang korupt, pada sebuah keadaan yang terjadi , dan mengalirkan katakata menjadi larik larik puisi yang bernada protes sosial. Ketika sebuah kondisi mendesak hati dan pikiran saya untuk introspeksi dan mawas diri atas sebuah lakon kehidupan yang harus dan telah ataupun sedang saya jalani membuat hati merasakan irisan irisan kegetiran yang menyayat bak sembilu, pena dan kertas menjadi semacam alat suntik dan narkoba yang paling saya cari di manapun berada untuk menjadi obat penawar atas segala kegelisahan yang mendera, lalu teriakan teriakan kecil bernada kegetiran menjadi penawar yang sanggup saya datangkan bahkan di saat malam ketika yang lain terlelap sekalipun atau bahkan di saat saya harus menjalani tugas pekerjaan yang menumpuk di ruang yang tidak ada satupun teman teman yang mengerti sastra ,sebab semuanya adalah enginer enginer arsitekture dan design yang lelah dengan segala hal berbau romantisme katakata fiksi.  Jika dalam kondisi seperti itu, saya merasakan kesepian yang amat mendalam, seakan hidup di dunia yang asyik sendiri tanpa orang lain tahu apa maksudny atau mungkin saya dinggap gila. Tetapi menjadi orang yang dikira gila di tengah tengah para manusia yang gila manusia adalah sebuah kenyataan yang musti saya lakoni, dan akhirnya membuat kegilaan saya ternyata menyembuhkan diri sendiri, minimal saya menjadi tahu tentang arti dan makna hidup untuk apa saya ada di sini?

Saat berada dititik nadir kehidupan, bahkan yang paling rendah dari titik nadir, entah apa namanya, saya selalu merasakan sesuatu mendorong naluri lebih kuat  untuk bisa selalu survive. Kegelisahan atau apapun namanya, menjadi teman setia yang memang selalu ikut tidur dengan jiwaku saat itu. Tak bisa dipungkiri, itulahh manusia, sebagai sebuah makhluk yang selalu gelisah. Bahkan kegelisahan itu datang hingga kini saat saya sudah jauh meninggalkan dan meloncat dari titik nadir. Kegelisahan menjadi semacam nafasku yang lalu, kini dan akan datang !

Bagaimana tidak gelisah jika setiap menit setiap detik menyaksikan ketidak adilan hukum manusia di bumi ini, janganlah kita bicara Palestine dan Israel, bicara hukum di negeri kita sendiri saja, akan mampu memupuk rasa gelisah menjadi lebih berkembang biak dalam sanubari. Atau pergilah ke jalanan ibu kota, setiap saat setiap jarak tertentu, orang tua renta , orang buta, orang tanpa layak disebut orang menjadi semacam bumbu masakan yang sudah amis untuk dibicarakan. Atau begitu tumbuh suburnya rasa ketakutan kita atau saudara perempuan kita untuk bisa berjalan dengan tenang di bis bis kota atau angkutan kota tanpa gangguan preman preman yang tak layak disebut preman sebenarnya, sebab beraninya hanya pada sesama sejenis masyarakat yang sudah lama mengalami penindasan penguasa atau bahkan para anak buah penguasa semacam polisi polisi jalanan yang tak ubahnya seperti preman preman berseragam saja, yang hanya bisa mencari cari kesalahan kaum kita yang selayaknya dijaga dan diberikan rasa nyaman untuk bisa walau hanya sekedar menghirup udara sekedar menarik: NAFAS………

Bagaimana tidak gelisah jika setiap detik, melihat dan mendengar berita tentang kematian saudara saudara kita sendiri. Kematian semacam lottere yang kita sendiri tidak tahu kapan nama diri kita sendiri muncul lalu dibacakan…lalu nafas menjadi semacam harta yang paling amat sangat berharga……..

 

Salam..malam minggu yang dingin 14 Januari 2012

nanangrusmana

14 Comments on “Cermin saya memantulkan sang diri…

  1. tank top
    18 Januari 2012

    haiii…salam kenal yaaa…nice post

  2. imsfly
    17 Januari 2012

    puisinya sangat indah bang :)

  3. Herdis Suryatna
    16 Januari 2012

    selamat mengambil award dari Herdis Suryatna http://herdissuryatna.wordpress.com/award/ :D

  4. Ely Meyer
    16 Januari 2012

    memang ngenes kalau melihat berita menyedihkan akhir akhir ini

  5. uyayan
    16 Januari 2012

    salut gan dengan tulisanya…

    memang benar gan setiap hari kita di suguhi berita tentang bencana, penindasan, keputus asaan, ke tidak adilan dan bentuk kesedihan lainya sungguh menyedihkan…
    tapi heranya kho para penguasa seakan tidak mau peduli..

    • nanangrusmana
      16 Januari 2012

      ya…semua itu membuat saya gelisah..dan kegelisahan yg dalam adalah sebuah inspirasi datangnya sebuah karya…: makasih ya sdh berkunjung :)

  6. Ni Made Sri Andani
    16 Januari 2012

    Wah.. tulisan yang sangat menarik. Senang berkenalan,Pak Nanang.

    • nanangrusmana
      16 Januari 2012

      terimakasih bu mba eh apa saya manggilnya ya ? :) terimakasih sudah berkenan brkunjung….:) smoga perkenalan yg membaa kebaikan.

      • Ni Made Sri Andani
        17 Januari 2012

        Ya..panggil apa saja dari potongan nama saya boleh, Pak Nanang. Made boleh, Sri boleh, Dani juga boleh. Terimakasih,Pak

      • nanangrusmana
        17 Januari 2012

        terimakasih Sri…….:) met malam…:)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 15 Januari 2012 by in opini and tagged .

My Blog roll