Puisi Iin Syah
dan hilang waktu
seperti tetesan embun di pucuk rambutan
yang mencuri keemasan warna langit
di senja yang habis kucoret dengan tinta ungu:rumah mungil terakhir.
dan semua senyap
diambil hening yang menerobos hingga ke kulit ari
menggigilkan senyuman yang habis masa
bersama bisu, ah ya… pergi saja.
dan mempertanyakan pagi yang tertinggal,
kemana saja?
ke punggung gerbong yang sengal di sepanjang rel tua
atau terminal-terminal pengap dan bau sesak peradaban yang
fuh, membuat nasaf tersengal, semakin hilang saraf,
semakin hilang kesah; rumah mungil terakhir.
Dimana?
pelupuk mata orang-orang lalu lalang
atau tapak tangan dengan kedua belahnya yang
tak lagi bergambar. Datar.
Nasib berpindah menjadi latar notebook
Ah ya,
rumah mungil terakhir.
bersama lukisan dari kanvas murahan
yang menjelma garis-garis tak beraturan
wajahmu
wajahnya
wajahku
wajah mereka yang simpang siur;
dari lakon-lakon vcd bajakan, 21, dosen, mahasiswa,
tukang fotocopy, penjual makanan sepanjang rel,
tukang buah, OB, dekan, profesor, tukang es doger,
sopir angkot, masinis kereta, semua,
semua yang berpapasan di jalanan
dan berakhir di jembatan penyeberangan
bersama titisan dewi sri yang menadahkan tangan
meminta sedekah untuk menebus sepiring nasi dari segenggam beras
yang dulu pernah dikutuk legenda untuk menjadi keberkahannya.
dan sayap patah
aku mencari ketiadaan yang melarikan logikaku hingga ke langit
apa saja
tinggal mengukir waktu pada semua bacaan, dongeng, dan wacana
yang bukan bertuliskan rindu, hanya rumah mungil terakhir.
Tempat cinta,
tempat pulang, tempat tak ada lagi alasan,
tempat sunyi menjamu
tempat lentera tak masalah terang atau padam
tempatku.
Margonda, 11 Desember 2011
cowok sekarang pinter bikin puisi yah…
apa gara-gara suka nggombal nih? hehehe salama kenal…
salam kenal kembali….
hahaha…..bukan itu. Puisi adalah juga teks yang berisi pesan, dan tema cinta hanya satu bagian saja dari sekian tema puisi…..
analisa begitu pernah saya dapatkan dulu, karena image puisi hanya sebagai katakata manis penuh bualan….: masih wajar analisa begitu jika tak memahami tentang puisi.
Jika benar begitu , berarti yg namanya : WS Rendra, Prof Sapardi Joko Damono, Chairil Anwar, Acep zam zam noor, dll adalah type type penggombal ya?
tempatmu,
adalah tempatku yang bertajuk seribu ukiran mengulir katakata
yang menjelma merupa wajahwajah entah kenapa
mengerling menghardikku tanpa basabasi
dan
di jembatan penyeberangan kamis malam
kutemukan sepotong sayap patah
menunjuk arah pulang
tempatmu
ketika lentera redup
bersama lamunan di tepi laut
tempatmu.
# Iin……..luarbiasa catatan terakhirmu di margonda….
selamat pulang…..