nanangrusmana.com

Kolom Sharing tentang Interior Design,Seni ,Sastra, Sketsa & Kehidupan

Ketika Bulan Mencair di Garis Batas Pelangi

:Kolaborasi bersama Iin Syah

Bukan pada malam berjalan.

Hanya sapa seadanya saja.

Kataku katamu katanya terpapar kemana ke langit ke semua, ke semua.

Berpendar seperti warna,

apa, pelangi bukan ?

Tengoklah, ada di sana tertulis.

satu permintaan, satu saja.

Dan takdir menuntunmu menuju hujan abu yang menaungi mimpi-mimpimu menjadi jalan cerita bersama semu yang kemarin

Dan jika bintang telah jatuh , penunjuk arahpun tak nyata lagi ada,

semua menjadi sia sia, merangkak tanpa arah yang pasti,

membaur seluruh penjuru meramu rindu yang tak kunjung satu,

kemarin , pelangi menjuntai menjemput mimpi,

menuliskan berjuta peristiwa yang bertaut

ke sana ke mari,

terombang ambing angin malam dan hujan debu yang kian tak reda di tiup lima penjuru mata angin.

Rasanya, seluruh tubuhku makin meluruh

dihinggapi debu panas warna warni yang berpendar seperti kembang api,

padahal hati mewarnai nama nama semu di antara langit dan bumi.

Aih…satu saja warnaku ingin kau lukis di lintang garis pelangi , esok hari. tentu saja.

Di garis batas yang punah dari semua pintu yang tertutup,

tanpa kata, tak apalah. Waktu ada dimana saja.

Sembari aku menghitung tetesan bulan yang mencair dalam kendi kemarin.

Yang kau tinggalkan.

Dan berakhir dalam wujud hampa namun bersuara.

Selamat jalan, katanya…

Dan di garis batas tanpa warna,

tetesan bulan membasahi alam mimpiku yang mengaliri nafasnafas semu, ingatkah ?

Meninggalkanmu adalah bagai perahu tanpa layar terkembang,

hanya harap laju kerna gelombang laut yang tak tahu ke mana arah menuju.

Ah..sambil kutorehkan sajak ini di papan kayu sampan berharap ombak menemuimu kelak di bulan yang selalu mencair…

mengalir hingga akhir, di palung bulan ku pulang,

sembari mencari kembaramu yang tlah punah.

Dii sana tatap saja wajahnya memantul dari air kolammu di sudut rumah.

Lalu kita berjabat dengan tangan terkepal dan berdoa dengan hati terpejam.

Di akhir hari, di akhir bulan padam….

Jakarta; 140511

nanangrusmana-iin syah

2 Comments on “Ketika Bulan Mencair di Garis Batas Pelangi

  1. sayyidahali
    23 Mei 2011

    susah banget memahaminya..puisi,puisi ga ada bakat kayanya dibidang ini..

    • nanangrusmana
      26 Mei 2011

      bisa dimulai dengan mencari penekanan kata dalam tiap bait, dan cari makna makna kata yg ada di sini…. :) silahkan selamat mengapresiasi…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16 Mei 2011 by in Tentang Puisi and tagged .

My Blog roll