Home

Menulis ulang dari sebuah blog.

Ada tiga bentuk karya sastra, yaitu: prosa, puisi, dan drama. Puisi adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis. Karya-karya sastra lama yang tertulis berbentuk puisi. Mahabarata, Ramayana yang berasal dari India adalah berbentuk puisi atau kakawin. Drama-drama Sophocles (Oedipus Sang Raja, Oedipus di Kolonus, dan Antigone) berbentuk puisi. Drama-drama William Shakespeare (Hamlet, Macbeth, dan Romeo dan Yuliet) juga berbentuk puisi. Karya-karya tersebut bersifat universal.
Puisi adalah bentuk karya sastra yang bahasanya dipadatkan, dipersingkat, diberi irama, dengan bunyi yang padu, dan dengan pemilihan kata-kata bas (imajinatif). Kata-kata betul-betul terpilih agar memiliki kekuatan pengucapan. Walaupun singkat atau padat, namun berkekuatan. Karena itu, kata-kata dipilih yang memiliki persamaan bunyi (rima) dengan kata-kata lainnya. Kata-kata itu juga diharapkan mewakili makna yang lebih luas dan lebih banyak. Karena itu, kata-kata itu dicarikan konotasinya atau apa yang disebut bahasa figuratif.

A. Ciri-ciri Kebahasaan dari Puisi
Jika diuraikan lebih rinci, hal-hal yang menjadi ciri puisi adalah sebagai berikut:
1. Pemadatan Bahasa
Bahasa dipadatkan agar berkekuatan gaib. Karena itu, jika dibaca nampak bahwa baris-baris tidak membentuk kalimat dan alinea, tetapi membentuk larik dan bait yang sama sekali berbeda hakikatnya. Dengan perwujudan tersebut, diharapkan makna yang lebih luas. Berikut ini tiga bait puisi karya Chairil Anwar “Doa”.

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Bait pertama terdiri atas tiga larik. Masing-masing larik bukan kalimat. Kunci utama bait itu adalah kata termangu. Termangu dalam hal apa, kepada siapa, tentang apa, dan banyak pertanyaan lain. Mungkin penyair ingin mengatakan bahwa di dalam kegoyahan imannya kepada Tuhan, (termangu), ia masih menyebut nama Tuhan (dalam doa-doanya). Bait kedua dengan kata kunci susah. Susah dalam hal apa? Tentang apa? Karena apa? Ditafsirkan bahwa. Penyair sangat sulit berkonsentrasi dalam doa untuk berkomunikasi kepada Tuhan secara total (penuh seluruh). Dalam kegoncangan iman kesulitan berkonsentrasi untuk “dialog” dengan Tuhan memang dimungkinkan. Bait ketiga kata kuncinya adalah “lilin”. Cahaya lilin ini mewakili cahaya yang sangat penting untuk menerangi kegelapan malam, ataukah mewakili cahaya yang rapuh dalam kegelapan malam. Mungkin penyair bermaksud untuk menyatakan bahwa cahaya iman dari Tuhan tinggal cahaya kecil di lubuk hati penyair yang siap padam (karena kegoncangan iman).

2. Pemilihan Kata Khas
Puisi Chairil Anwar di atas menggunakan kata-kata khas puisi, bukan kata-kata untuk prosa ataupun bahasa sehari-hari. Tentu saja tidak semua kata-katanya khas puisi, pasti ada kata-kata yang jelas seperti dalam prosa atau bahasa sehari-hari. Kalau semua kata-katanya khas puisi, puisinya menjadi gelap dan sulit dipahami.
Dari puisi “Doa” tersebut ada beberapa kata yang sulit ditafsirkan secara langsung, seperti termangu, menyebut nama-Mu, susah sungguh, Caya-Mu panas suci. Kerdip lilin, kelam sunyi. Kata-kata tersebut tidak bermakna lugas tetapi bermakna kias
Kata-kata yang dipilih penyair dipertimbangkan betul berbagai aspek dan efek pengucapannya. Tidak jarang kata-kata tertentu dicoret beberapa kali karena belum secara tepat mewakili gelora hati penyair (dalam hal ini dapat dilihat naskah asli puisi karya para penyair di Pusat Dokumentasi H.B. Yassin).
Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam memilih kata adalah sebagai berikut:
a. Makna Kias
Sudah dijelaskan di depan bahwa makna kias dalam karya sastra banyak digunakan. Yang paling banyak menggunakan makna kias adalah puisi. Di samping puisi di depan, berikut ini dikutip dua bait puisi Ali Hasjmi, salah seorang penyair Angkatan Pujangga Baru berjudul “Menyesal”.

Pagiku hilang sudah melayang
hari mudaku telah pergi
Kini petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi

Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
miskin ilmu, miskin harta.

Dalam puisi tersebut makna kias itu cepat dapat dipahami karena diberi jawaban pada baris berikutnya. Kata “pagi” diberi jawaban “muda”. Kata “petang” diberi jawaban “batang usiaku sudah tinggi” (tua). Dalam puisi Chairil Anwar berikut makna kias lebih sulit ditafsirkan (dari judul “Aku”).

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
… ………………………….
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri (h).

Pembaca harus menafsirkan makna lugas dari binatang jalang dari kumpulannya terbuang. Ini dapat diartikan orang yang selalu bersikap memberontak dan berada di luar organisasi formal. Karena yang sakit bukan fisik, tetapi jiwanya, maka “luka dan bisa (akan) dibawa berlari. Terus berlari”.
b. Lambang
Dalam puisi yang banyak digunakan lambang yaitu penggantian suatu hal atau benda ke hal lain atau benda lain. Ada lambang yang sifatnya lokal, kedaerahan, nasional, tetapi ada juga lambang yang sifatnya universal (berlaku untuk semua manusia). Misalnya bendera adalah lambang identitas negara (universal). Bersalaman adalah lambang persahabatan, pertemuan, atau perpisahan (universal). Berikut ini dikutip puisi yang mengandung lambang, yaitu beberapa bait puisi yang mengandung lambang, yaitu beberapa bait puisi Rendra berjudul “Surat Kepada Bunda Tentang Calon Menantunya”.

. .. … … … … .. . … … …
Burung dara jantan yang nakal
Yang sejak dulu kau piara
Kini terbang dan telah menemui jodohnya
Ia telah meninggalkan kandang yang kaubuatkan
Dan tiada akan pulang
Buat selama-lamanya
………………………..

Diri penyair sebagai orang yang setia di lambangkan dengan “burung darajantan”. Selanjutnya pada bagian lain puisinya, Rendra menulis:

……………………………….
Dan sepatu yang berat serta nakal
Yang dulu biasa menempuh
Jalan-jalan yang mengkhawatirkan
Dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara
Kini telah aku lepaskan
Dan berganti dengan sandal rumah
Yang tenteram, jinak dan sederhana
………………………….

Dalam bait tersebut dinyatakan bahwa jejaka yang belum berumah tangga dilambangkan “sepatu yang berat dan nakal, sedangkan setelah menemukan jodohnya, ia menjadi “sandal rumah yang jinak dan sederhana”
Lambang warna artinya memberi makna warna untuk mengganti makna lain. Misalnya warna hitam melambangkan kesedihan, warna putih kesucian, warna kuning kesetiaan, warna biru harapan, dan sebagainya. Lambang warna dapat kita hayati dalam “Balada Sumilah” karya Rendra berikut ini.

…………………………….
Tubuhnya lilin tersimpang di beranda
Tapi halusnya putih pergi kembara
……………………………
Bulan keramik putih tanpa darah
Warna jingga adalah mata Samijo
menatap ia, menatap amat tajamnya.
Padamkan jingga apimu. Padamkan!
Demi selaput sutraku putih: padamkan!

Kata-kata (alusnya putih” berarti rohnya yang suci (karena Sumilah telah mati). Kata ”jingga” dalam puisi ini menggambarkan kebencian. Dalam puisi ini diceritakan Samijo sangat benci kepada Sumilah, pacarnya, karena IA mengira Sumilah telah mengkhianatinya.
Lambang bunyi artinya makna khusus yang diciptakan oleh bunyi-bunyi atau perpaduan bunyi-bunyi tertentu. Misalnya bunyi seruling yang mendayu-dayu mengingatkan kita akan tanah Pasundan (priangan). Bunyi gamelan membawa kita kepada alam Jawa Tengah dan Jawa Timur. Begitu juga bunyi-bunyi khas Bali, Ambon, dan sebagainya akan melambangkan kedaerahan tertentu. Di samping itu vokal, konsonan, dan perpaduan vokal dan konsonan dapat membentuk sifat tertentu dari puisi. Hal ini juga termasuk lambang bunyi. Berikut ini puisi Ramadhan K.H. yang kental dengan lambang bunyi.

Seruling di pasir ipis, merdu
Antara gundukan pohon pina
Tembang menggema di dua kaki
Burangrang-Tangkuban Prahu
Jamrut di pucuk-pucuk
Jamrut di air tipis menurun

Kata seruling menunjukan lambang tanah Pasundan dengan bunyi seruling yang meliuk-liuk penuh kedukaan, terlebih dikaitkan dengan gunung Burangrang (legenda lutung kasarung) dan Tangkuban Prahu (legenda Sangkuriang) lebih meyakinkan bahwa puisi ini bersifat duka.
Lambang suasana artinya peristiwa atau keadaan yang tidak digambarkan apa adanya, tetapi diganti dengan keadaan lain. Misalnya, dalam bait puisi Rendra yang berjudul “Surat Cinta” ini terdapat lambang suasana:

Kutulis surat ini
Kala hujan gerimis
Bagai bunyi tambur mainan
Anak peri dunia yang gaib
Dan angin mendesah
Mengeluh dan mendesah

Ungkapan “hujan gerimis” di atas melambangkan suasana sedih (duka) penyair karena cintanya kepada gadis pujaannya tidak direstui oleh orang tua gadis itu. Namun cintanya memang luar biasa besarnya, bergema, bergemuruh seperti (tambur mainan anak peri dunia yang gaib” lambang suasana juga pada kata-kata: lintang kemukus (bencana), barata yuda (huru-hara), dan sebagainya.

c. Persamaan Bunyi atau Ritma
Pemilihan kata-kata di dalam sebuah bans puisi maupun dari satu baris ke baris yang lay mempertimbangkan kata-kata yang mempunyai persamaan bunyi dan bunyinya merdu. Bunyi-bunyi yang berulang ini menciptakan konsentrasi dan kekuatan bahasa atau sering disebut daya gaib dari kata-kata seperti dalam mantra.
Dalam puisi lama dan puisi modem sampai masa Chairil Anwar, persamaan vokal pada akhir baris sangat dipentingkan (rima akhir), seperti pada puisi “Doa” berikut ini:
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
Mengingatkan penuh seluruh

………………………………
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Bandingkan dengan puisi Angkatan Pujangga Baru karya Ali yang berjudul “Menyesal” ini:

Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Kini petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi

Dalam pantun dan syair persamaan bunyi pada akhir baris lebih nampak karena menjadi syarat keindahan puisi lama yang bersajak aaaa (untuk syair) dan abab (untuk pantun).

Pantun Tanam melati di mana-mana
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu bubur kita berdua

Piring putih piring bersabun
Disabun anak orang Cina
Memutih bunga dalam kebun
Setangkai saja yang menggila

Syair
Pungguk bangsawan hendak menitir
Tidak diberi kakanda satu
Adinda jangan tuan bersyair
Jikalau tuan guruh dan petir

lnilah taman orang bahari
Pungguk, wahai jangan kemari
Bukannya tidak kakanda beri
Jikalau tuan digoda peri
(Syair di Burung Pungguk)

Dalam puisi-puisi setelah tahun 1945, persamaan bunyi dapat pada berbagai kata pada satu baris, seperti karya Rendra berjudul “Ballada Terbunuhnva Atmo Karpo” berikut ini:

Dengan kuku-kuku besi, kuda menebah perut bumi
Bulan Perkhianat, gosokkan tubuhnya pada pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat penunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawipun telanjang.

Dalam puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, persamaan bunyi itu malahan dibuat sangat penting seperti dalam mantra. Hal tersebut dapat dihayati dalam puisinya “Sepisaupi” berikut ini:

sepisau luka sepisau duri
Sepikul dosa sepikan sepi
sepisan duka serisau diri
sepisan sepi sepisan nyanyi

Sepisaupa sepisaupi
Sepisapunya sepikan sepi
seplsaupa sepisaupi
sepikul diri keranjang duri
(O, Kapak, Amuk)

3. Kata Konkret
Penyair ingin menggambarkan sesuatu secara lebih konkret. Oleh karena itu, kata-kata diperkonkret. Bagi penyair mungkin dirasa lebih jelas karena lebih konkret, namun bagi pembaca sering lebih sulit ditafsirkan maknanya. Sebagai contoh, Rendra dalam “Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo” membuat kata konkret berikut ini:
Dengan kuku – kuku besi, kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat, gosokkan tubuhnya pada pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah. Walaupun telanjang.

Kaki kuda yang bersepatu besi disebut “kuku besi”. Kuda itu menapaki. Jalan tidak beraspal dan hal itu disebut “kulit bumi”. Atmo Karpo sebagai perampok yang naik kuda digambarkan dengan “penunggang perampok yang diburu”. Karena perjalanan naik kuda itu sudah lama, Atmo Karpo berkeringat. Hal itu diperkonkret dengan “surat bau keringat basah.” Penunggang kuda itu siap berperang dan sudah menghunus samurai (jenawi). Hal ini diperkonkret dengan “jenwipun telanjang”.

4. Pengimajian
Penyair juga menciptakan pengimajian (imaji = citraan) dalam puisinya. Melalui pengimajian, apa yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat (imaji, visual), didengar (imaji auditif), dan dirasa (imaji taktil).
Imaji visual dapat dihayati dalam bagian puisi Toto Sudarto Bachtiar yang berjudul “Gadis Peminta-minta” berikut ini:

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang. tanpa iiwa.
…………………………..
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-Jintas di atas air kotor. tapi Yang begjtu kauhafal.

Dalam puisinya “Doa”, Chairil Anwar juga menciptakan imaji visual seperti berikut ini:

………………
Tuhanku
Aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintumu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling.

Dengan kata-kata tersebut di atas, pembaca seolah-olah melihat lebih jelas kedudukan penyair (meskipun semua secara psikologis).
Dalam puisinya “Cipasung” berikut ini, Acep Zamzam Noer membuat imaji visual berlatar pedesaan dan persawahan untuk mengungkapkan iman keagamaannya agar menjadi lebih konkret.

…………………………………..
Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu
Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental
Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup,

……………………………………
Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan
Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurinianMu
(di luar kata, 1989)

Imaji auditif (pendengaran) adalah penciptaan ungkapan oleh penyair, sehingga pembaca seolah-olah mendengarkan suara seperti yang digambarkan oleh penyair. Puisi “‘Asmaradana” karya Goenawan Mohammad berikut memiliki ungkapan yang dapat dinyatakan sebagai imaji auditif

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan gugur sisa hujan daTi daun
Karena angin pada kemuning. ia dengar resah kuda serta
Langkah pedati. Ketika langit bersih menampakkan bima sakti.
…………………………………………
(Asmaradana,1998)

Imaji taktil (perasaan) adalah penciptaan ungkapan oleh penyair sehingga pembaca ikut merasakan sesuatu yang cukup mendalam. Dalam puisinya “Yang Terhempas dan Yang Putus”, Chairil Anwar mengungkapkan rasa takut mencekam menghadapi maut, sehingga pembaca ikut merasakan perasaan akan mati tersebut:

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru angin
(Yang Terhempas dan Yang Putus”)

Rasa sedih Anjasmara dalam puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohammad dapat ikut dihayati oleh pembaca karena kecakapan penyair dalam menyusun kata-kata yang tepat:

………………………………………..
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rum put halaman ada tampak yang menjauh ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba karena ia tak berani lagi.
(Pariksit, 1972)

Chairil Anwar dalam puisinya “Senja di Pelabuhan Kecil” juga menciptakan imaji taklik, sehingga pembaca ikut merasakan kedukaan secara mendalam.

…………………………….
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tema di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan tiba terdekap
(Chairil Anwar, 1949)

5. Irama (Ritma)
Irama (ritma) berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. dalam puisi lama dan puisi pada umumnya, irama berupa pengulangan yang teratur dari bagian suatu baris puisi sehingga menimbulkan gelombang teratur yang menciptakan keindahan puisi. Irama dapat juga berarti pergantian keras lembut, tinggi rendah, panjang pendek secara berulang-ulang menciptakan gelombang yang memperindah puisi.
Dalam puisi Angkatan Pujangga Baru, pemotongan baris-baris puisi secara teratur dapat menciptakan irama, misalnya dalam puisi “Menyesal” karya Ali Hasyim berikut ini:

Pagiku hilang / sudah melayang
Hari mudaku / telah pergi
Kini petang / datang membayang
Batang usiaku / sudah tinggi

Dalam puisi-puisi Chairil Anwar kesatuan baris-baris puisi diikat oleh pengulangan kata tertentu sehingga menciptakan gelombang yang teratur, seperti dalam “Doa” berikut ini:

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
………………………….

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Aku mengmbara di Negeri asing
Tuhanku
di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling.
(Chairil Anwar, 1947)

6. Tata Wajah
Dalam puisi mutakhir (setelah tahun 1976), banyak ditulis puisi yang mementingkan tata wajah, bahkan penyair berusaha menciptakan puisi seperti gambar. Oleh karena itu, puisinya sering disebut puisi konkret karena tata wajahnya membentuk gambar yang mewakili maksud tertentu. Dibandingkan tata wajah non-konvensional, jauh lebih banyak puisi dengan tata wajah konvensional (apa adanya, tanpa membentuk gambar atau bentuk wajah tertentu).
Puisi-puisi berikut dengan tata wajah yang tidak lazim atau tidak seperti konvensi (aturan) tata wajah puisi pada umumnya.

SAJAK TRANSMIGRAN II

Dia selalu singkong
dan terus – menerus singkong
hari ini singkong
tadi malam singkong
besuk mungkin singkong
besuknya lagi juga singkong
di rumah sepotong singkong
di ladang seikat singkong
di pasar segerobak singkong
di rumah tetangga sepiring singkong
enam bulang lagi tetap singkong
setahun lagi tetap singkong
sepuluh tahun masih singkong
duapuluh tahun makin singkong
dan limapuluh tahun kemudian
transmigran beruban
sakit –sakitan
mati
lalu dikubur di ladang singkong
1983
(F. Rahadi, 1983)

Puisi di atas berisi kritikan ketidakberhasilan program transamigrasi. Transmigran-transmigran gunung kidul transmigrasikan ke Sumatra sebetulnya ingin terbebas dari makan singkong. Tetapi temyata di daerah transmigrasi (Sumatra), mereka tetap menanam singkong, makan singkong, serba-serbi singkong, bahkan setelah 50 tahun bertransmigrasi, ia meninggal dunia dan dikuburkan di ladang singkong.
Puisi berikut ini juga dengan tata wajah yang tidak konvensional yang juga ditulis olen F. Rahardi. Penyair mengkritik tentang koruptor yang merajalela di negeri ini dalam puisinya “Doktorandus Tikus I” berikut ini:

DOKTORANDUS TIKUS I

selusin toga
me
nga
nga
seratus tilrus berkampus
diatasnya
dosen dijerat
profesor diracun
kucing
kawin
dan bunting
dengan predikat
sangat memuaskan
1983

Tata wajah menyerupai huruf Z dari puisi Sutardji Calzoum Bachri sangat terkenal. Judulnya adalah “Tragedi Winka dan Sihka” seperti berikut ini:
Kawin
Kawin
Kawin
kawin
kawin
ka
Win
ka
Win
Ka
Win
Ka
Win
Ka
winka
winka
winka
winka
winka
winka
sih
ka
sih
sih
ka
sih
sih
sih
sih
ka
sih
sih
sih
sih
sih
sih
ka
Ku
(Sutardji C.B., 1976)

Winka kebalikan dari kawin, artinya perkawinan yang gagal. Sihka kebalikan dari kasih, artinya karena perkawinannya gagal maka kasih itu menjadi kebencian. Baris yang menuju ke kanan artinya semakin besar tingkatannya, sedangkan baris yang menjauh ke kiri artinya makin mengecil. Sementara yang hanya satu suku kata artinya orang yang kawin itu sudah putus ( sendiri-sendiri).
Puisi Sutardji yang berjudul “Shang Hai” berikut ini juga dengan tata wajah yang non-konvensional.

SHANG HAI

ping di atas pong, pong di atas ping
ping ping bilang pong
pong pong bilang ping
mau pong? Bilang ping
mau mau bilang pong
mau ping? Bilang pong
mau mau bilang ping
ya pong ya ping
ya ping ya pong
tak ya pong tak ya ping
ya tak ping ya tak pong
kutakpunya ping
pinggir ping kumau pong
tak tak bilang ping
pinggir pong kumau ping
tak tak bilang pong
sembilu jarakMu merancap nyaring
1973
(Sutardji Calzoum E.)

B. Hal Yang diungkapkan Penyair
Jika di depan dibahas aspek kebahasaan dari puisi, maka berikut ini dikemukakan apa yang diungkapkan oleh penyair melalui puisinya. Dalam hal ini akan dibahas tema, nada dan suasana, perasaan, dan amanat dari puisi.
1. Tema Puisi
Tema adalah gagasan pokok (subject-matter) yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Tema mengacu pada penyair. Pembaca sedikit banyak harus mengetahui latar belakang penyair agar tidak salah menafsirkan tema puisi tersebut. Karena itu tema bersifat khusus (adiacu dari penyair). Obyektif (semua pembaca harus menafsirkan sarana), dan lugas (bukan makna kias yang diambil dari konotasinya).
Tema yang dapat dibahas di sini misalnya tema ketuhanan (religius), tema kemanusiaan. tema cinta. tema patriotisme. tema periuamzan. Tema kegagalan hidup. tema keindahan alam tema keadilan, tema kritik sosial tema demokrasi. dan tema kesetiakawanan
a. Tema Ketuhanan (Refil!ius)
Tema ketuhanan sering kali disebut tema religius filosofis, yaitu tema puisi yang mampu membawa man usia untuk lebih bertakwa, lebih menghayati kekuasaan Tuhan, dan merenungkan Tuhan beserta alam seisinya.
Drama-drama Yunani diklasifikasikan bertema religius karena menampilkan ketidakberdayaan manusia di hadapan. Tuhan Sang Maha Penguasa, Maha Bijaksana, dan Maha Pengasih/Pemurah. Puisi Chairil Anwar yang menunjukkan ketidakberdayaannya menghadapi maut dalam “Yang Terempas dan Yang Putus” juga dapat dinyatakan sebagai puisi yang bertema . Religius. Begitujuga puisi-puisi karya penyair berikut ini:
Y.E. Tatengkeng “Anakku”; Amir Hamzah “Padamu Jua”; Sanusi Pane “Candi Mendut'” Chairil Anwar “Doa'” Kirdjo Mulyo “Tuhanku”; Rendra “Balada Penyaliban”; Suparwoto Wiraatmadja “Senandung Natal”; Budiman S. Hartono “Doa”; Sapardi Djoko Damono “Perahu Kertas”, “Siapakah Engkau”; Emha Ainun Najib “99 Untuk Tuhanku” dan Mustofa Bisri “Sujud” dan “Doa Aisyah”.
Bandingkan “Doa” Chairil Anwar dan “Doa” karangan Budiman S. Hartoyo berikut ini:

DOA

Kepada Pemeluk Teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
mengingat kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
tinggal kerdip lilin ke kelam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
(Chairil Anwar, Deru Campur Debu, 1960)

DOA

Aku mengenal-Mu
Aku melihat-Mu
Tuhanku
(Ah, apakah Kau tersenyum
Melihat tingkah-laku yang lucu
Bersimpuh begini?) .

Jangan memandangku begitu, Tuhanku
Betapa pun!
Jangan palingkan Wajah-Mu
Betapa pun!
Ya, betapa pun telah Kau saksikan
pola-tingkah-laku selama ini
seperti mainan gasing di tengah galau kehidupan
Yang Kau putar-putar
Apa yang Kau maksud
dengan kediam-diaman begitu?
Apakah jelas Kau lihat
dosa-dosaku?
Ah. Engkau diam saja!)

Betapa pun, ya Allah
Jangan palingkan Wajah-Mu Betapa pun kusandang dosa-dosaku dan dengan rasa malu
Aku datang menghadap-Mu
Tapi pandang-Mu jangan begitu …
(Budiman S. Hartoyo, Sebelum Tidur, Jakarta: Pustaka Jaya, 1977)

Dalam puisi tersebut, penyair benar-benar secara khusyuk berserah diri kepada Tuhan dan ingin senantiasa hidup di dalam cahaya kasih Tuhan.

b. Tema Kemanusiaan
Melalui peristiwa, penyair berusaha untuk meyakinkan kepada pembaca tentang ketinggian martabat manusia. Karena itu, manusia harus dihargai, dihormati, diperhatikan hak-haknya, dan diperlakukan secara adil dan manusiawi. Perlakuan yang mengorbankan martabat manusia, apapun alasannya harus ditentang atau tidak disetujui.
Puisi karya Toto Soedarto Bachtiar berikut ini bertemakan kemanusiaan karena menyatakan bahwa meskipun hanya pengemis, ia manusia yang bermartabat tinggi dan martabatnya lebih tinggi dari Menara Katedral. Puisinya tersebut berjudul “Gadis Peminta-minta”.

GADIS PEMINTA-MINTA

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenaI duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dan kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu mumi, terlalu murni.
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda
Toto Sudarto Bachtiar, Suara

Penyair menyadarkan kepada kita bahwa “gadis kecil berkaleng kecil” itu harus kita hargai, kita perhatikan, kita tolong karena ia manusia juga seperti kita.
Rendra banyak menulis puisi-puisi dengan tema kemanusiaan yang menyadarkan pembaca untuk selalu menghargai martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Hal itu dapat kita hayati antara lain dalam puisi Rendra yang berjudul “Orang-orang Miskin” berikut ini:

ORANG-ORANG MISKIN
Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raja.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
……………………………………………………….
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu hindarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik jadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan t.b.c. dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berhasil sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
balai gerimis yang selalu membayang
orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita.
atau ke dada mereka sendiri.
kenangkanlah:
orang – orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim
Yogya
4 Februari
1978

c. Patriotisme
Dengan puisi yang bertema patriotisme, penyair membawa pembaca untuk meneladani orang-orang yang telah berkorban demi bangsa dan tanah air. Bahkan mereka reIa mati demi kemerdekaan. Puisi-puisi seperti “Diponegoro”, “Karawang Bekasi” (Chairil Anwar), “Pahlawan Tak Dikenal” (Toto Sudarto Bactiar), “Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini” (Taufiq Ismail), dan “Negeriku” (Mustofa Bisri).
Berikut ini dikutip puisi patriotik berjudul “Diponegoro” (Chairil Anwar):

Chairil Anwar
DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselubung semangat yang tak bisa mati

Maju
lni barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berarti.
Sudah itu mati

Maju
Bagimu negeri Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Kerikil Tajam, 1978)

Kita semua tahu bahwa Pangeran Diponegoro adalah patriot bangs a yang pantas diteladani oleh seluruh bangsa Indonesia. Di masa pembangunan ini semangat perjuangan Pangeran Diponegoro harus kita hidupkan di dalam jiwa kita semua (Tuan hidup kembali dan bara kagum menjadi api).
Baris yang menyebutkan “pedang di kanan keris di kiri” berarti perjuangan Pangeran Diponegoro tidak hanya didukung kekuatan militer yang terlatih (pedang), namun juga kekuatan rakyat dan tradisi kraton/nenek moyang (keris). Karena itu disebut “‘berselubung semangat yang tak bisa mati”.
Pasukan Diponegoro tidak mengumbar janji dan memancarkan kekuatan (“bergenderang-berpalu”). tetapi mengandalkan semangat kesetiakawanan dan saling percaya mempercayai (“kepercayaan tanda menyerbu”). Chairil Anwar menyadari bahwa jika hidup ini sudah diberi arti, maka kematian akan diterima dengan ke lapangan dada (“sekali berarti/sudah itu mati”). Ungkapan ini sangat terkenal.
Para prajurit menyediakan semangatnya untuk negara. Mereka yakin jika pemimpin mereka (Diponegoro) wafat, mereka akan jadi budak penjajah yang ditindas (“punah di atas menghamba/Binasa di atas ditindas”). Mereka rela tidak ikut menikmati hasil perjuangannya, selagi masih hidup. Setelah meninggal dunia, mereka akan turut bahagia melihat buah dari perjuangannya (“sungguhpun dalam ajal baru tercapai/jika hidup harus merasai”).
Bait terakhir puisi tersebut menunjukkan kebulatan tekad para patriot untuk membela bangsa dan tanah air dengan bait ini: “maju, serbu, serang, terjang”.

d. Tema Cinta Tanah Air
Jika tema patriotisme mengungkapkan perjuangan membela bangsa dan tanah air, maka tema cinta tanah air atau tanah kelahiran berupa pujaan kepada tanah tumpah darah, desa, kota kelahiran, atau negeri tercinta.
Puisi-puisi Muhammad Yamin tahun 1920-an merupakan puisi tentang kecintaan penyair kepada tanah air (dalam hal ini Sumatra). Ayip Rosyidi menyatakan cintanya kepada tanah kelahirannya seperti dalam puisinya “Tanah Sunda” berikut ini:

Ajip Rosyidi
TANAHSUNDA

Ke mana pun berjalan, terpandang
daerah ramah di sana
Ke mana pun ngembara, kujumpa
manusia hati terbuka
mesra Menerima

Pabila pun berseru menggetar nyanyi
suara rindu bersenandung duka
Pabila pun bertemu, menggetar hati
Sawah lepas terhampar luas
dunia hijau muda

Riak sungai pagi-pagi
Angin keras menyibak rambut di dahi
Dan kulihat tanah penuh darah
tubuh beku berbaring kuyu
menggapaikan tangan sia-sia
berseru pun sia-sia

Ah, dimana pun kaubukakan rangkuman
Ku kan menetap di sana
Kapan pun kaulambaikan tangan
Ku kan datang
Menekankan jantung ke tanah hitam
(Surat Cinta Enday Rasidin, 1960).

Puisi di atas menunjukkan cinta penyair yang tulus kepada tanah kelahiran yaitu tanah Sunda. Di tanah itu daerahnya ramah, orang-orangnya selalu mesra Menerima penyair. Daerah yang selalu dirindukan, selalu menggetarkan hati penuh sawah luas yang membentangkan harapan. Namun derita tidak lepas dari daerahnya itu yaitu “tanah penuh darah” dan “tubuh terbaring kuyu”. Korban-korban kekejaman pemberontak tidak mendapatkan pertolongan yang memadai (“tangan sia-sial bersenyum sia-sia”). Walaupun bagaimana derita masyarakat di sana, penyair tetap mencintai tanah kelahirannya itu sampai kapan pun (“kapan pun kau lambaikan tanganku kan datang menekankan jantung ke tanah hitam”).

e. Tema Cinta Kasih antara Pria dengan wanita
Nyanyian-nyanyian pop liriknya berupa puisi. Kebanyakan nyanyian pop bertemakan cinta antara pria dan wanita. Di dalam puisi lama pantun, kita juga mengenal tema cinta jenis ini yang diklasifikasikan menjadi pantun perkenalan, pantun berkasih-kasihan, pantun perpisahan, dan pantun ibu hati. Dari jenis pantun tersebut dapat dinyatakan bahwa tema cinta ini juga berarti putus cinta dan sedih karena cinta.
Puisi-puisi Rendra banyak yang bertema cinta, terutama bagian pertama. dari kumpulan puisi Rendra Erimat Kumpulan Sajak yang berjudul “Romansa”. Dua puisi dalam “Romansa” dan “Surat Kepada Bunda tentang Calon Menantunya”. Berikut ini adalah puisinya “Surat Cinta”:

W.S. Rendra
SURA T CINTA

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur mainan
anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah.
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu!

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercinta dalam kolam
bagai dia anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai; dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku! .

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi.
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan

menempuh ke muka
dan tak’kan kunjung diundurkan

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, Dik Narti,
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta kens keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan

Aku melamarmu.
Kau tabu dari dulu:
tiada Lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain…
penyair dan kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata-kata
yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit.
Lalu tumpahlah gerimis.
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuat
Bagai seribu tangan gaib
Menyebarkan seribu jarring

Menyergap hatimu
Yang selalu tersenyum padaku

Engkau adalah putri duyung
tawananku.
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahkan bagiku!
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmnu
aku melamarmu.

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kema langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan
Dua anak lelaki nakal
bersendau gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya.
Wahai, Dik Narti,
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku!
(Empat Kumpulan Sajak, 1969).

Rendra memiliki kelebihan-kelebihan dalam menciptakan simbul-simbul (lambang) dalam puisi cintanya ini. Seperti telah dijelaskan di depan, bait pertama menyebutkan “hujan gerimis” (artinya kesedihan yang diderita karena cinta kedua remaja tidak direstui orang tua di gadis). Ungkapan “tambur mainan anak peri dunia yang gaib” menyimbolkan bahwa cinta dua sejoli itu sangat kuat, sangat mendalam seperti kekuatan gaib yang sulit sekali dicegah atau dilarang.
Baik kedua menunjukan Meskipun “langit menangis” (kesedihan karena cintanya tidak direstui semakin besar), namun dua sejoli itu semakin mendalam cintanya seperti percintaan “dua ekor belibis bercintaan dalam kolam/mengibaskan ekor/serta menggetarkan bulu-bulunya”. Karena cintanya sudah semakin mendalam, maka penyair menyatakan melamar “Dik Narti”-nya.
Bait ketiga menunjukkan lebih jelas tentang kekuatan dan keajaiban cinta antara sang penyair dengan Dik Narti yang diungkapkan sebagai «kaki-kaki hujan yang runcing kaki-kaki cinta yang tegas bagai logam berat gemerlapan”. Dilanjutkan bait berikutnya “menempuh ke muka/dan tak kan kunjung diundurkan”. .
Bait kelima menyatakan bahwa cinta mereka memang sangat suci karena direstui oleh “selusin malaikat” yang turun menemui mereka berdua “di muka kaca jendela”. Karena” itu, sang penyair siap untuk memperoleh pemberkatan perkawinan “dengan pakaian pengantin yang anggun bunga-bunga serta keris keramat”.
Bait keenam dan ketujuh merupakan penjelasan penyair tentang jati dirinya yang diungkapkan kepada kekasihnya bahwa ia adalah “penyair sederhana” dari kehidupan sehari-hari bermula dari kata dan kata bermula dari kehidupan, pikir, dan rasa”. Penyair perlu menandaskan tentang cintanya yang sangat besar dan suci yang “bagai berjuta-juta jarum alit (kecil)/memasok kulit langit”. Dari kekuatan dan kesungguhan cintanya itu penyair akan mendapatkan “kantong rejeki dan restu wingit”. Karena itu kesedihan akan sirna, karena semangat cintanya yang kuat “bagai seribu tangan gaib” yang memikat hati sang gadis.
Bait kedelapan menunjukkan kekaguman penyair kepada kekasihnya, seorang penyanyi seriosa terkenal; di Yogyakarta, karena itu disebut “putri duyung dengan/suara merdu lembut/bagai angin laut/mendesah kalah bagiku. Ketika cinta mereka sudah padu, maka “putri duyung” itu tidak berdaya dan “mengejap-ngejapkan matanya yang Indah / dalam jaringku”.
Baik kesembilan menyatatakan bahwa cinta penyair betul-betul tulus karena diarah untuk mendapatkan anak. Karena itu, penyair menyatakan “kuingin dikau/menjadi ibu anak-anakku” kepada kekasihnya, Dik Narti
Cinta antara pria dan wanita dapat juga menunjukkan kedukaan karena perpisahan seperti yang dikemukakan oleh Chairil Anwar dalam puisinya “Senja di Pelabuhan Kecil” berikut ini:

SENJA DI PELABUHAN KECIL
Buat Sri Ayati

lni kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut,
menghembus diri dalam mempercayai mau berpaut.
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini, tanah, air tidur, hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.
(Chairil Anwar, 1946).

lsi puisi ini adalah kesedihan mendalam yang dialami penyair karena harus berpisah dengan pacar (kekasih)nya, yaitu Sri Ayati. Ada. tiga bait puisi yang Makin ke bawah Makin tinggi tingkat kesedihannya sampai mengungkapkan “sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan/dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap”.

f. Tema Kerakyatan/demokrasi
Rakyat mempunyai kedaulatan atau kekuasaan. Tema kerakyatan/ demokrasi mengungkapkan kekuasaan rakyat melalui kekuasaannya itu. Puisi Hartojo Andangjaya berikut ini mengungkapkan tema kerakyatan tersebut:

RAKYAT

Rakyat ialah kita jutaan tangan yang mengayun
dalam kerja di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja

Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tife di hutan kebun’ pala
Rakyat ialah suara beraneka.

Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang berkeringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta

Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa
Hartoyo Andangjaya, 1962

Dalam puisi ini dinyatakan bahwa rakyat sangat berkuasa bahkan disebut “darah puisi di tubuh bangsa/debar sepanjang masa”.

g. Tema keadilan Sosial (Protes Sosial)
Tema keadilan sosial ditampilkan oleh puisi-puisi yang menuntut persamaan hak dan perjuangan bagi si miskin yang menderita. Puisi jenis ini juga disebut puisi protes sosial karena biasanya mengungkapkan prates terhadap ketidakadilan di dalam masyarakat atau mengingkatkan kepada si kaya untuk. memikirkan si miskin.
Puisi Rendra berikut ini menunjukkan protes terhadap tidak adanya keadilan sosial oleh karena perbedaan antara “burung kondor” (rakyat jelata yang miskin) dengan “Mastodon” (pejabat kaya yang korup), dalam puisinya “Sajak Burung-burung Kondor”:
SAJAK BURUNG-BURUNG KONDOR

…………………………………………..
Para tani-buruh bekerja,
berumah di gubug-gubug tanpa jendela,
menanam bibit di tanah yang subur,
memanen hasil yang berlimpah dan makmur,
namun hidup mereka sendiri sengsara

Mereka memanen untuk -tuan tanah
yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjelma menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa
Dan bila mereka menuntut peraturan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.
………………………………..

Beribu-tibu burung kondor,
berjuta- juta burung kondor.
Bergerak menuju ke gunung tinggi,
Dan di sana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi,
mampu menghisap dendam dan sakit hati.

Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit
Tersingkir ke tempat-tempat yang sepi.

Burung-burung kondor menjerit,
Di batu-batu gunung menjerit,
Bergema di tempat-tempat yang sepi.

Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
Mematuki batu-batu, mematuki udara,
Dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.
Yogya, 1973.

Dalam puisi tersebut di atas dikemukakan bahwa rakyat jelata yang miskin (burung-burung kondor) tidak mendapatkan bagian rejeki yang telah dikuasai oleh para mastodon yang seralcah (mastodon adalah banteng besar di Amerika Latin yang melambangkan penguasa kaya raya yang serakah dan tidak mau turun tahta).

h. Tema Pendidikan Budi Pekerti
Puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka hingga Angkatan 1945 kebanyakan ditulis oleh para guru. Karena itu, tema pendidikanl budi pekerti begitu kuat. Gurindam sebagai jenis puisi lama juga mengemukakan nasihat-nasihat.
Puisi Ali Hasjmi yang berjudul ‘”Menyesal” ini berisi pendidikan atau nasihat agar para remaja mengisi hidup masa remaja untuk mempersiapkan masa depan.
Ali Hasjmi

MENYESAL

Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudap pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi

Aku lari di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati,
Miskin ilmu, miskin harta

Akh, apa gunanya kusesalkan,
Menyesal tua tiada berguna,
Hanya menambah luka siksa.
Kepada yang muda kuharapkan,
Atur barisan di pagi hari
Menuju ke arah padang bakti
(Puisi Barn, 1954).

Bahwa kaum muda harus mempersiapkan masa mud a untuk menyongsong masa depan itu terdapat pada bait terakhir “atur barisan di hari pagi/menuju ke-arah padang bakti!”.
Puisi karya Asrul Sani yang berjudul “Surat Dari Ibu” ini juga bertema pendidikan, yaitu nasihat seorang ibu kepada anaknya agar mengembara untuk mencari pengetahuan dan pengalaman sebanyak mungkin agar hidupnya dapat kokoh.
Asrul Sani

SURAT DARI IBU

Pergi ke dunia anak-anaku sayang
pergi ke hidup bebas!
Sesama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Sesama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”
(1984)

Setelah pemuda memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup, dinyatakan dengan “Jika bayang telah pudar/dan elang laut pulang ke sarang angin bertiup ke benua tiang-tiang akan kering sendiri dan nakhoda sudah tahu pedoman Boleh engkau datang padaku!” Pada bait terakhir, sang ibu meminta anaknya “pulang kembali ke balik malam untuk “bercerita tentang cinta dan hidupmu pagi hari”.

i. Tema-tema Lain
Kelompok penyair dari Bandung sekitar tahun 1970-an menulis apa yang disebut “Puisi mBeling”, yaitu puisi yang main-main tidak berkesungguhan. Namun sebenarnya puisi-puisi mbeling ini banyak yang bertema protes sosial. Puisi-puisi Yudhistira Adinugraha termasuk puisi-puisi mBeling ini. Berikut ini dikemukakan puisi Yudhistira yang berjudul “Biarin”.

Yudhistira ANM Massardi
BIARIN

kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin

habisnya, terus terang saja, aku nggak percaya sama kamu
Tak usah marah. Aku tahun kamu orangnya sederhana
cuman, karena kamu merasa asing saja makanya kamu selalu bilang seperti itu.

kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin
kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin
soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, lonte?
aku laki-Iaki. Kalau kamu nggak suka kepadaku sebab itu
aku rampok hati kamu. Tokh nggak ada yang nggak perampok di dunia ini. Iya, nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi.

habisnya, kalau nggak kubilang begitu mau apa coba
bunuh diri? Itu lebih brengsek daripada membiarkan hidup ini
berjalan seperti kamu sadari sekarang ini.

Kamu bilang itu melelahkan. Aku bilang biarin
kamu bilang itu menyakitkan
(Sajak Sikat Gigi, 1974).

Sikap masa bodoh penyair ini diekspresikan sebagai reaksi terhadap keadaan dunia yang tidak menentu. Puisi dengan tema main-main tetapi mengandung sindiran keras juga kita dapat pada puisi~puisi Sutardji Calzoum Bachri. Berikut ini dikemukakan puisinya “Shang Hai” sebagai contoh:

SHANG HAI

ping di atas pong pong di atas ping
ping ping bilang pong
pong pong bilang ping
mau pong? Bilang ping
mau mau bilang pong
mau ping? Bilang pong
mau mau bilang ping
ya pong ya pin
ya pmg ya pong
tak ya pong tak ya ping
ya tak ping ya tak pong
kutakpunya ping
pinggir ping kumau pong
tak tak bilang ping
pinggir pong kumau ping
tak tak bilang pong
sembilu jarakMu merancap nyaring
1973

Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohammad menjadikan cerita-cerita lama sebagai renungan kehidupan. Cerita “”Damar Wulan-Minakjinggo” yang antara lain juga mengisahkan perpisahan antara Damar Wulan dengan Anjasmara seperti dalam puisinya “Asmaradana” ini:

ASMARADANA

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun
Karena angin pada kemuning. Ia den gar resah kuda serta langkah
Pedati ketika pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
Pedati ketika langit bersih menampakkan bima sakti
Yang jauh. Tapi diantara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata

Lalu la ucapkan perpisahan itu, kematian itu, ia melihat peta.
nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tidak semuanya
disebutkan

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi
pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,
ia takkan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba
karena ia takkan berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggalah seperti dulu
bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
Kulupakan wajahmu.
(Parikesit, 1972).

Puisi “Asmaradana” (suatu nyanyian tembang Jawa yang mengungkapkan duka hati karena cinta yang terputus) dikisahkan kebimbangan dan kedukaan hati Anjasmara (istri Damar Wulan) setelah Damar Wulan berpamitan akan pergi menunaikan tugas dan Ratu Kencana Ungu untuk berperang dengan Minak Jinggo di Blambangan. Jika Damar Wulan kalah, ia akan mati, berarti Anjasmara kehilangan suaminya. Jika Damar Wulan menang, Anjasmara juga kehilangan suaminya karena suaminya akan menjadi raja dan memperistri Kencana Ungu. Hal inilah yang dijadikan perenungan kehidupan oleh Goenawan Mohammad bahwa “kenaikan pangkat seorang suami belum tentu membawa kebahagiaan”.
Puisi “Perahu Kertas” karya Sapardi Djoko Damono berkaitan dengan kisah Nabi Nuh yang harus menyediakan perahu untuk menyelamatkan keluarganya dan semua binatang yang telah diciptakan Tuhan. lnilah puisinya tersebut:

PERAHU KERT AS

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; airya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju laman.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar”, kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tidak pernah lepas dari rindumu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya, “Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit”.

Kisah Nabi Nuh digunakan oleh penyair untuk merenungkan kehadiran Nabi Nuh sebagai penyelamat dunia. Tuhan memilih orang-orang tertentu, orang pilihan yang benar-benar orang baik untuk menunaikan tugas mulia penyelamatan itu. Nabi Nuh merasa bahagia karena telah menyelamatkan keluarganya dan para binatang dari banjir besar pemusnahan para pendosa itu.
Tema pedesaan tentang petani desa yang patriotik dan wanita-wanita desa yang telah berjuang mati-matian menjadi pedagang kecil untuk menghidupi keluarga. Keduanya terjadi di daerah Walikukun. Berikut ini dikutip puisi Piek Ardiyanto Supriyadi yang berjudul “Paman-paman Tani Utun” ini:

PAMAN-PAMAN TANI UTUN

buat mingun
bapaku sendiri
petani di walikukun
daerah ngawi
1
paman-paman tani utun
ingatlah
musim labuh sawah basah
duailah .

musim labuh kurang tidur ya paman
kerja berjemur dalam lumpur tak makan
sawah-sawah menggempur hancur
merpatinya wok-wok ketekur.

cangkul luku garu sabit ya paman
habis kerja terus ngarit di galangan
esoknya nyebar bibit
ya ampun berasnya sangat sulit

2
paman-paman tani utun
ingatlah
musim hujan kurang nasi
jangan mencuri

pegang perut anak bini ya paman
sore-sore jagung ubi yang dimakan
besarnya sejari kaki
esoknya lahir bayi
malam nembang sigromilir ya paman
meningkah perut lapar keroncongan
dini hari kali besar
rumah-rumah terbongkar
……………………………….
musim panen sudah tiba ya paman
pesta kerja di tengah sawah kepanasan
padi digendong minah, dipikuI sardi
sayangnya tidak dibawa ke lumbung sendiri
tembang megatruh pengganti beras ya paman
babis panen padi amblas aduh setan
Tuhan dewa danghyang di gunung lawu
inilah lagu merdu petani sendu.
(Sastra, Th. I No.2, Juni 1961)

Paman tani yang “utun” (lugu dan rajin bekerja) itu bahagia sekali akan pekerjaannya, terutama jika panen tiba. Namun sayang, bahwa padi hasil panen itu tidak dibawa ke lumbung sendiri karena pak tani tersebut ada yang telah menjual padinya secara “ngijon”, ada juga yang menggadaikan sawahnya.
Puisi Hartoyo Andangjaya berjudul “Perempuan-perempuan Perkasa” berikut ini juga berlatar belakang daerah Walikukun dekat Ngawi:

PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
dari manakah mereka.
Ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
Sebelum peluit kereta api terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta,
ke manakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbong kota
Merebut hidup dipasar-pasar kota

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta.
siapakah mereka
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka cinta kasih yang bergerak menghindari desa demi desa
Hartoyo Andangjaya, 1973.

2. Nada dan Suasana Puisi
Di samping tema, puisi mengungkapkan nada dan suasana kejiwaan. dalam puisi itu. Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca dan dari sikap itu terdapatlah suasana puisi itu. Ada puisi yang bernada sinis, nada prates. nada menggurui, nada memberantak, nada main-main, nada serius (sungguh-sungguh), nada gagah nada patriotik nada belas kasih (memelas), nada takut, nada – nada santai, nada masa bodoh nada pesimistis, nada humor (bergurauan), nada mencemooh, nada anggun (kharismatik), nada filosofis. nada khusyuk, dan sebagainya. Dari contoh puisi-puisi di depan dapat ditelaah bagaimana nadanya.
Nada kagum misalnya dalam puisi “Perempuan-perempuan Perkasa” (Hartoyo Andangjaya) dan ‘”Diponegoro” (Chairil Anwar). Nada main-main misalnya dalam puisi «Siarin” (Yudhistira Adi Nugroho) dan “Shang HaC’ (Sutardji Calzoum Bachri). Nada patriotik misalnya dalam “Kerawang Bekasi” dan “Diponegoro” (Chairil Anwar) dan “Pahlawan Tak Dikenal” (Toto Sudarto Bachtiar) seperti dinyatakan dalam puisi berikut ini:

PAHLAWAN TAK DIKENAL

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang.

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalinya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda
Suara, 1950
(Toto Sudarto Bachtiar)

Toto Sudarto Bachtiar sangat kagum kepada para pahlawan yang gugur dalam pertempuran di Surabaya tanggaI 10 November 1945. Mereka kebanyakan tidak dikenal dan dalam usia yang sangat muda. Karena kagumnya kepada para pahlawan pejuang kemerdekaan itu, maka mereka disebut dengan kata “sayang”.
Nada lain adalah nada protes atau kritik sosial seperti dalam puisi-puisi Rendra- sejak tahun 1967 sampai tahun 2000; puisi-puisi demonstrasi karya Taufiq Ismail, dan puisi-puisi F. Rahardi (di depan disebutkan salah satunya adalah “Sajak Transmigrasi II” dan “Doktorandus Tikus I”.
Nada memuja terdapat dalam puisi “Teratai” (Sanusi Pane) dan “Ode Buat Bung Karno” (Leon Agusta). Puisi “Teratai” adalah sebagai berikut:

TERATAI

Kepada Ki Hajar Dewantara

Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tiada terlihat orang yang lalu.

Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri, Laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
Teruslah, O, teratai bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga mulia
Biarpun engkau tidak dilihat,
Biarpun engkau tidak diminat
Engkau turut menjaga zaman.
Sanusi Pane, 1957.

Puisi ini memuja Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh yang pantas untuk diteladani. ia dibandingkan dengan bunga teratai yang tidak menonjolkan diri namun namanya termasyur di seluruh penjuru dunia. Kekaguman penyair kepada Ki Hajar Dewantara lebih nyata dengan baris terakhir “Engkau turut menjaga zaman”.
Nada pasrah dapat kita jumpai dalam puisi “Asmaradana” (Goenawan Mohammad) dan “Derai-derai Cemara” (Chairil Anwar).

DERA-DERAI CEMARA

Cemara menderai sampai jauh
Hari terasa akan jadi malam
Ada beberapa dahan ditingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam.

Aku orangnya bisa tahan
Sudah lama bukan kanak lagi Tapi ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini.
Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari sekolah rendah
Tapi memang ada yang belum dikatakan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah
(Chairil Anwar, 1949).

Penyakit yang menggerogoti tubuh Chairil Anwar sehingga ia menyadari bahwa kematian akan datang padanya. Hidupnya dihantam oleh penyakit yang tersembunyi dalam tubuhnya (“merapuh /dipukul angin yang terpendam”). Ia pasrah bahwa dalam kematiannya ada yang “belum diucapkan”. Karena itu kematian disebutkan sebagai “kekalahan” yang selalu “ditunda”.
Puisi-puisi religius memiliki nada khusyuk seperti dalam puisi “doa” (charily Anwar), “Padamu Jua” (Amir Hamzah), dan “Senandung Natal” (Soeparwoto Wiraatrnadja).

3. Perasaan dalam Puisi
Puisi mengungkapkan perasaan penyair. Nada dan perasaan penyair akan benar-benar dapat kita dengarkan kalau puisi itu dibaca secara keras dalam “Poetry reading” atau deklamasi. Jika kita membaca dengan diam sebuah puisi, kita harus menafsirkan apa perasaan penyair yang mendasari puisinya itu.
Perasaan yang menjiwai puisi dapat gembira, sedih, terharu, terasing, tersinggung. patah hati. sedih yang mendalam sombong: tercekam. cemburu. kesepian. takut dan menyesal
Perasaan sedih yang mendalam diungkapkan oleh Chairil Anwar dalam “Senja. di Pelabuhan Kecil”, YE. Tatengkeng dalam “Anakku”, Agnes Sri Hartini dalam “Selamat Jalan Anakku”, dan Rendra dalam “Orang-orang Rangkas Bitung”.
Perasaan terharu terhadap suatu hal atau peristiwa kita dapati dalam “Gadis Peminta-minta” (Toto Sudarto Bachtiar), “Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya” dan “Karangan Bunga” (Taufiq Ismail), dan ‘Tari Seorang Guru Kepada Muridnya” (Hartoyo Andangjaya).

4. Amanat Puisi
Amanat atau pesan atau nasihat adalah akibat yang timbul pada diri pembaca setelah membaca puisi. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. Sikap dan pendengar pembaca sangat berpengaruh kepada amanat puisi. Cara pembaca menyimpulkan amanat puisi sangat erat kaitannya dengan cara pandang pembaca terhadap sesuatu hal. Meskipun didasarkan atas cara pandang pembaca namun amanat tidak dapat lepas dari tema dan isi dari puisi yang ditelaah.
Puisi “doa” karya Chairil Anwar, dapat mengandung bermacam-macam amanat, misalnya:
a. Setelah merasa hidupnya salah, hendaknya kita kembali ke jalan Tuhan
b. Tuhan selalu menerima diri manusia yang bertobat.
c. Tobat adalah jalan menuju kebaikan
d. Jangan menutup diri terhadap ampunan Tuhan sebab hanya dengan ampunan-Nya, hidup kita menjadi lebih baik.
Puisi Hartoyo Andangjaya yang berjudul “Dari Seorang Guru Kepada Murid-muridnya” berikut ini menampilkan kemiskinan kehidupan seorang guru. Keceriaannya di kelas tidak tergambar di rumahnya yang miskin dengan “Jendela-jendela yang tak pernah digantikainnya, tentang “kursi-kursi tua”, dan tentang “meja tulis sederhana” yang tidak pernah diceritakan oleh guru itu di depan kelas.

DARI SEORANG GURU KEP ADA MURID-MURlDNYA

Adakah yang kupunya ariak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdianku kepadamu

Kalau hari Minggu engkau datang ke rumahku
aku takut anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana

dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua kepadamu akan becerita
tentang hidupku di rumah tangga

Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
horison yang selalu bim bagiku
karena kutahu anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau telalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua
(Hartoyo Andangjaya, 1982)

tema puisi ini adalah kritik sosial terhadap situasi pemerintahan yang tidak memperhatikan nasib kehidupan guru (Sebelum tahun 1970-an). Puisi ini dapat menghasilkan amanat-amanat sebagai berikut:
1. Perbaikilah nasib guru
2. Hormatilah gurumu sebab walaupun hidupnya menderita, mereka
3. Tetap berbakti dengan penuh semangat.
4. Muliakanlah gurumu sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
5. Jika melihat guru, jangan dilihat harta benda dan kekayaannya, tetapi keluhuran martabatnya.
Puisi Toto Sudarto Bachtiar berjudul “Pahlawan Tak Dikenal” berikut ini memiliki tema kepahlawanan atau patriotisme. Coba kita baca lagi puisi berikut ini:

PAHLAWAN TAK DIKENAL

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang.

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi pandang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalinya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah Lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata aku sangat muda
(Toto Sudarto Bachtiar, Suara, Jakarta: Balai Pustaka, 1977)

Puisi tersebut mengingkatkan berbagai amanat, antara lain:
1. Pahlawan sejati adalah pahlawan tak meningalkan jasa tanpa menonjolkan diri
2. perang kemerdekaan 10november di Surabaya melahirkan pahlawan-pahlawan tak dikenal alam usia muda yang pantas kita teladani
3. pahlawan muda itu rela mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan, karena itu kita harus mengisi kemerdekaan ini
4. Hargailah para pahlawan tak dikenal yang mati muda dengan menyerukan perjuangannya

DAFTAR PUSTAKA

Gani, Rizanur. Pengajaran Apresiasi Puisi, Jakarta: P3G Depdikbud, 1981
Joni, T Raka. Statraegi Belajar Mengajar. Jakarta:P3G. Depdikbud. 1979
Wardani, I.G.A.K. Pengajaran Sastra, Jakarta: P3G Depdikbud, 1981

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
MEMAHAMI PUISI 1
A. Ciri-Ciri Kebebasan Puisi 1
1. Pemadatan Bahasa 1
2. Pemilihan kata khas 2
3. Kata konkret 7
4. Pengimajinasian 8
5. Irama (ritme) 10
6. Tata wajah 11
B. Hal yang diungkapkan penyair 14
1. Tema puisi 14
2. Nada-nada susunan puisi 34
3. Perasaan dalam puisi 36
4. Amanat puisi 37
DAFTAR PUSTAKA

11 thoughts on “Bagaimana Memahami Puisi

  1. mas………… mau nanya nie……… apa makna dari puisi aku hanya ingin mendengarkan sungai karangan anas yusuf? sebelumnya terimakasih

    • Bisa dilihat dari karakter sungai, anda sudah lihat sungai? bagaimana sifat atau karakternya? Mengalir….menurun mengikuti alur sungai, jika ada perbedaan ketinggian , dia pasti jatuh jadi air terjun, mengalir dan mengalir sesuai dengan ketentuan Penciptanya. Itulah makna sebuah kejujuran. Salam. :)

  2. saya yang masih baru menikmati puisi baru2 ini…..
    mau tanya kang, apakah lirik lagu atau bagian lirik lagu boleh dikatakan puisi???..
    karena kalau saya lihat, banyak lirik lagu yang seperti puis, atau memang puisi yang dilagukan???

    mohon pencerahannya kang :D

  3. subhanallah..tertatih2 ku mempelajarinya..banyak pelajaran yang diambil dari tulisan ini..(jujur untuk memahami puisi,masih paham betul).namun subhanallah..bagaimana jiwa-jiwa para pujangga dahulu,gelora jiwa mereka,sungguh aku sangat salut..mungkinkah ada generasi sekarang bisa seperti mereka,,
    oya..aku belajar merangkai kata,(judulnya,kaum yang tuan sayang)..tapi ko kaya,awut-awutan gitu.(jujur,ku sangat menyukai karya,tapi baru -baru ini aja,ingin belajar merangkai kata)hehe..mampir ya mohon kasih masukan.mudahan suatu bisa menghasil kan yang layak dibaca dan bermanfaat..copasannya masih aku simpan.akan selalu kualang-ulang.mudahan suatu saat ku bisa memahami betul-betul apa arti puisi.. :-)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s